Saphira 17 tahun

Oleh: Shaphira Leonita (Kls.:9A)

Hari ini adalah ulang tahunku yang ke 17, dan kata orang orang di umur 17 tahun ini aku akan menjadi lebih dewasa dan akan lebih mendapatkan banyak masalah. Mungkin juga kali ya, buktinya di umur 17 kita harus bercapek capek ria untuk buat KTP, SIM(ini hanya untuk yang dapat mengendarai mobil lowh). Aduh kayaknya kalau dipikirkan akan bikin kepalaku pusing deh. Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri namaku Saphira teman teman baikku sering memanggilku Ira, tapi bagi para teman teman yang jahil mereka memanggilku sapi(duh, kesian banget deh aku nama bagus bagus jadi sapi). Aku ini keturunan etnik chinesse jadi wajahku agak oriental.

Menurut teman temanku wajahku cukup lumayan tapi sampai aku berumur 17 tahun ini aku belum juga mendapatkan pacar, kata teman teman ku mungkin saja karena penampilanku yang kurang menarik dan sangat kolot. Tapi aku mempunyai satu keistimewaan walaupun umurku baru 17 tahun tetapi, aku sudah berkuliah. Aku mempunyai sahabat baik namanya Bella, jadi kalau digabung bisa seperti nama artis Bella Saphira. Bella ini sangat aktif, cantik, dan pandai bergaul. Bella juga keturunan etnik chinesse tapi ada satu yang beda dari ku dia sudah beberapa kali pacaran makanya dia sangat mendesakku untuk punya pacar dan dia berharap di umurku yang ke 17 tahun ini aku dapat mempunyai seorang pacar dan bisa dijadikan cinta sejatiku.

Aku tidak merayakan ulang tahunku yang ke 17 ini secara besar besaran karena keluargaku tidak kaya, kami hanya hidup berkecukupan saja, jadi aku merayakannya dengan sahabat terbaikku Bella. Tampaknya harapan Bella akan terkabul karena secara tidak sengaja sepulang merayakan ulang tahunku aku bertabrakan dengan seorang pria. Pria itu sangat tampan, tubuhnya tinggi seperti model model yang ada di majalah, pokoknya kriteria kriteria idamanku ada di dalam dirinya tetapi sayang, dia sangat galak. Ketika aku menabraknya kita berdua sama sama terjatuh dan “Oow…eh, kalo jalan tuh pake mata”kata pria itu, aku pun membalasnya “kalo jalan tuh pake kaki bukan pake mata”sahutku. Tiba tiba saja Bella menyenggolku lalu berbisik kepadaku “jangan galak galak ayo..cepet kenalan ama dia, tampangnya boleh juga”katanya.

Jreng…entah kenapa tubuhku langsung merinding semua tapi memang aku mengakuinya kalau wajahnya lumayan tapi aku sangat tidak senang dengan kelakuannya dan menurut pandanganku sebagai orang biasa, dia bukan dari kalangan biasa dalam kata lain dia itu anak orang kaya. “Woi…bantuin gue berdiri dong, malah ngeliatin aja” katanya lagi. Lalu aku membantunya berdiri dengan mengulurkan tanganku dan akhirnya ia berdiri dengan bantuanku.

Setelah membantunya bukannya berdamai tetapi dia memarahiku sepertinya ia sangat kesal “Eh, lu buta ya,jalan segede ini masih aja nabrak orang, atau jangan jangan lu mau nyopet ya?” tanya dengan wajah yang mencurigakanku “Enak aja, walaupun gue miskin tapi gue gak bakal nyopet dah bagus dibantuin berdiri bukannya bilang terima kasih malah ngomel ngomel!” jawabku dengan ketus. “Siapa duluan yang gak minta maaf???kalo gak ada yang minta maaf ngapain gue bilang TE-RI-MA KA-SI-H??HAH???” teriaknya. “yah udah maaf ya gue dah nabrak lu” jawab ku dengan pasrah tampaknya kali ini aku harus mengalah padanya.”Bagus bagus” jawabnya dengan wajah yang bangga, “kok lu gak bilag terima kasih sih???khan gue dah minta maaf tadi, katanya kalo gue mau minta maaf lu bakal bilang terima kasih….?” tanyaku “siapa yang bilang! Gue gak akan pernah bilang terima kasih ato pun maaf keorang seperti lu, gue hanya bilang itu ke orang yang gue hargain…Tau!” jawabnya lagi.

Setelah itu dia langsung saja berjalan lagi, tetapi yang namanya Bella susah sekali buat diberitahu, ketika dia mau pergi Bella mencegatnya dan dia bilang mau berkenalan dengan pria itu. Pria itu heran dan ketika mau bicara Bella langsung mnyambarnya dengan sejuta pertanyaan, seperti namanya siapa, tinggal dimana, sedang apa disini, kuliah dimana, umur berap, dan yang paling parah Bella meminta nomor handphonenya. Dan dengan dinginnya pria itu meninggalkan Bella dengan sejumlah pertanyaannya itu.

Ternyata Bella tidak pantang menyerah dia mengejar pria itu lagi dan sekarang dia mau pria itu berkenalan dengan ku pria itu pun bertanya “Buat apa gue kenalan sama babu kayak gitu?” Bella kehabisan kata kata lalu dia memberikan jawaban yang sangat mengejutkan “Buat di jadiin babu lu…”jawabnya dengan ceria, “Bel, gue kan bukan babu” bisik ku, “gak papalah berkorban sedikit” jawabnya lagi dengan tenang. Aduh, aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan Bella.”Oh…ternyata lu sengaja nabrak gue biar kenalan ama gue dan jadi babu gue?”tanya pria itu “jadi sekarang ada cara baru ya buat ngelamar kerjaan…”katanya lagi.”Gak..” jawabku dengan tegas. “Ya udah gini aja lu kerja di rumah gue dan gue akan gaji lu, tapi tugas lu bukan hanya beres beres rumah tapi lu harus buatin juga pr gue, pokonya semua yang gue suruh lu harus kerjain” katanya.

Memang ini sudah kesialanku ketika aku sudah mau menjawab tidak ke pria itu, Bella lebih dulu menjawab iya ke pria itu. Jadi, aku harus menjadi pembantunya. Ternyata dia juga kuliah di tempatku kuliah hanya saja beda jurusan tapi aku jarang sekali melihatnya dan kata teman temanku yang lainnya mereka berkata kalau pria itu bernama Ken, ia memang jarang masuk kuliah karena malas dan dia tergolong anak anak yang sering melanggar peraturan dan sering menyiksa orang.

Setelah mendengar semua itu aku menjadi ketakutan sendiri. Dalam hati aku berpikir “Gimana kalo ampe gue di apa apain ama tuh cowo? Gimana kalo gue nanti di palak?” tanyaku dalam hati yang resah. Akhirnya hari itu datang juga aku harus bekerja sebagai pembantu di rumah itu dan mengerjakan semua yang dia perintahkan kepada ku. Mula mula layaknya seorang pembantu yang diambil dari tempat penampungan pembantu, aku disuruh untuk membersihkan seluruh rumahnya, untungnya rumahnya kecil karena dia tinggal sendiri. Aku tidak berani untuk bertanya mengapa dia tinggal di rumah sekecil ini dan tidak tinggal bersama keluarganya, kalau aku menjadi dia, aku tidak akan tinggal di rumah sekecil ini, aku mau menikmati apa yang sudah kuhasilkan.

Aku mulai memberesi rumahnya. Bener saja apa yang dikatakan teman teman ku, kalau dia memang suka menyiksa. Ketika aku sedang mencuci piring yang habis dia kotori, dia kembali lagi ke dapur dan menaruh lagi piring kotor dan dicampur oleh piring yang telah aku cuci dan dia sengaja membuat tangannya basahi dan membasahi seluri lantai. Aku menjadi naik pitam “Woi…ini tuh piring bersih jangan di campur ama piring yang kotor lagian pake satu atau dua piring aja bisa kan?” tanyaku sambil menolakan tangan ku kepinggang. “Kalo gue maunya begini emang kenapa?rumah rumah gue…udah pembantu bersih bersih aja yang bener jangan ngomel melulu!” sahutnya. Lalu dia pergi tetapi, sebelum dia pergi dia berkata “eh…ntar lu jangan pulang dulu, bikin pr gue”. Aku hanya bisa mencoba untuk bersabar. Ini semua karena Bella yang memaksa aku untuk kenalan sama Ken.

Ketika aku mau pulang aku dicegat oleh Ken. “ Mau kabur ya?bikin dulu pr gue!”teriaknya.”hehe…iya gue tau!”sahut ku dengan lebih lantang. Akhirnya aku membuat pr nya, dan ternyata pr nya sangat mudah. Tapi aku sangat binggung, ketika aku sedang membuatkan pr nya, Ken selalu menatapku dengan pandangan yang aneh. Aku mau bertanya tetapi takut dia akan marah, akhirnya aku mengurungkan niatku untuk bertanya. Hari selanjutnya cukup melelahkan sama seperti hari hari sebelumnya. Tapi aku melewatinya dengan gembira dan sekarang Ken tidak seperti dulu yang selalu munyuruhku melakukan hal hal aneh, tetapi dia masih tetap jahil tetapi dia tidak galak lagi ketika pertama bertemu. Akhirnya aku mulai menyadari kalau aku mulai menyukai Ken.

Aku merasa aman ketika disampingnya, apalagi ketika duduk kita bersebelahan atau duduk berhadap hadapan rasanya jantung beerdebar dengan sangat cepat dan mungkin dapat terdengar oleh orang orang, dan yang membuatku begitu malu ketika aku melihatnya tersenyum kepadaku, wajahku langsung memerah dan membuatku salah tingkah. Ternyata Bella sudah mengetahui kalau aku suka dengan Ken, katanya dia tahu dari gerak gerik ku ketika bertemu dengan Ken, entahlah itu benar atau tidak tapi setelah aku mendengar kalau Bella tahu aku suka dengan Ken, aku mulai menceritakan setiap kejadian kejadian yang aku alami.

Suatu hari, ketika aku sedang membersihkan rumah Ken, ada seorang tamu pria yang cukup tampan dan sangat ramah. Tapi wajahnya agak mirip dengan Ken, walaupun tidak begitu mirip, hanya sorotan matanya saja yang sama. “Ken nya ada?”tanyanya dengan ramah. “oh…ada tunggu sebentar ya…”jawabku. Aku memanggil Ken, ketika Ken keluar dia langsung memarahi pria itu. “ngapain lu kesini? Gak usah bujuk bujuk gue buat pulang deh!”tanyanya Ken dengan ketus. Namun pria itu tetap menjawab dengan sopan dan ramah “Ken, papa bukannya mau ngusir lu, dia Cuma mau lu buat nerusin perusahaannya aja…tapi lu tau sendiri kan kalo papa gampang banget naek darah, jadi dia gak sengaja ngomong begitu ke lu.”jawabnya. “he..nerusin perusahaan?kenapa gak lu aja, lu yang anak yang paling gede kan? Lagian sekarang lu juga lagi kerja di perusahaan”jawa Ken. Ken segera pergi meninggalkan pria itu sendiri dan aku.

Aku berusaha memecahkan kedinginan di antara kami berdua, jadi aku memintanya untuk masuk dan berbincang bincang dengannya. Ternyata namanya Christ, dia kakaknya Ken, pantas saja tadi Ken menyebutnya anak paling gede. Christ cukup mudah untuk diajak berbincang bincang dengan ku, kami mempunyai banyak kesamaan. Karena sudah menjelang malam dan aku harus segera pulang, akhirnya Christ mengantarku dengan mobilnya. Christ berkata kalau dia sangat senang berkelnalan dengan ku.

Tidak terasa hampir setahun aku berteman dengan kedua adik kakak itu. Ken dan aku menjadi lebih akrab, sampai sampai di kampus terdengar gosip kalau aku berpacaran dengan Ken dan tetu saja gosip itu sangat membuat wajahku memerah dan malu. Bella berkata kepadaku kalau lebih baik aku mengatakan kepada Ken kalau aku menyukainya. Aku sangat binggung dan sampai berhai hari aku tidak tidur hanya karena aku memikirkan apakah aku harus bilang pada Ken kalau aku menyukainya. Akhirnya aku aku membulatkan tekadku untuk bilang ke Ken kalau aku menyukainya. Aku merencanakan ketika aku ke rumahnya aku akan bilang hal ini ke Ken.

Aku bersiap siap untuk ke rumah Ken. Ketika sampai dirumahnya, hatiku semakin berdetak dengan kencang. Aku langsung mengerjakan seluruh pekerjaan yang biasa aku kerjakan tiba tiba ada yang menepuk ku dari belakang, ketika aku berbalik wajahku dengan wajah Ken dekat sekali sampai sampai aku mendengar suara napasnya. Aku langsung berbaik lagi lalu menjadi salah tingkah.”eh…kenapa lu jadi salting gitu?”tanya Ken dengan heran.”gak..pa..pa kok, kenapa lu manggil gue?” tanyaku dengan gugup. “oh… lu ada yang mau diomongin sama gue?”tanyanya.

Hati ku semakin berdegup dengan kencang sangat kencang, dan tiba tiba aku merasa jatuh dan mendengar Ken memanggil namaku. Ternyata aku pingsan karena kurang tidur dan terlalu tegang sehingga aku kekurangan udara. Tapi sepertinya ketika aku pingsan aku mengatakan sesuatu dan aku sempat membuka mata dan melihat di sebelahku ada Ken, kemudian aku tertidur lagi. Setelah beberapa jam aku pingsan, aku tersadar dan ternyata Ken masih ada di sampingku, aku langsung duduk dan dengan panik aku bertanya “ gue kenapa?”tanya ku. “tadi lu pingsan di dapur” jawabnya singkat.”Lalu untuk memastikan sesuatu tidak terjadi aku kembali bertanya dengan Ken denga tatapan memastikan “tadi,..eh..waktu gue pingsan gue…gak ngomong apa apa kan?”tanya ku.”maksud lu?”tanya Ken.”ya, kayak gue ngomong apa lah pokoknya aneh deh?ngomong gak?”tanyaku dengan tergesa gesa.”jelas gak…”jawab Ken, aku menghela napas. Tiba tiba Ken berpindah ke sebelahku lalu berkata “jelas gak salah lagi”lanjutnya. Aku langsung kaget dan tiba tiba saja Ken menciumku dan dia melanjutkan perkataannya. “lu mau tau apa yang lu bilang tadi pas lu pingsan?”tanya lagi “lu bilang, lu suka gue”katanya. Aku langsung berdiri tapi tangan ku ditarik Ken dan aku langsung jatuh ke pelukannya. “Gue juga suka sama lu, mungkin sebelum lu suka sama gue makanya gue mau waktu temen lu yang cerewet itu mau kenalan” katanya.

Aku tersenyum senang, ternyata doa Bella terkabul aku berpacaran dengan Ken. Ketika aku sedang pulang kuliah, kebetulan Ken sedang ada urusan dengan teman temannya. Aku bertemu dengan Christ di gerbang kampus. Christ menawarkan tumpangan kepadaku dan aku pun menerimanya, kami berbincang bincang sepanjang perjalanan, Christ memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu dia menatapku dengan pandangan yang serius. Kemudian dia mengatakan sesuatu yang mengagetkan dia berkata kalau dia menyukaiku, aku pun menjadi binggung aku seperti terjebak di anatara kakak adik ini, lalu Christ menayakan apakah aku mau menjadi pacarnya. Aku binggung sekali, bagaimana aku mau menolaknya dan tidak menyakiti hatinya. Lalu aku menjawab dengan pelan “ sorry, tapi gue udah punya pacar, maaf ya” jawabku dengan takut. Lalu dia tersenyum kecil dan berkata “pacar lu Ken kan, gue udah tau pas lu bakal nolak gue, tapi kita masih bisa jadi teman kan?”tanyanya. Aku mengangguk tanda mengiyakan. Kami melanjutkan perjalanan dengan berdiam diri, akhirnya aku sampai di depan rumahku dan segera menelpon Bella dan menceritakan apa yang telah terjadi hari ini. Bella berbangga hati karena dia merasa itu berkatnya karena dia mau mendoakan ku agar cepat punya pacar.

Hari hari ku jalani dengan baik dan sampai sekarang ini aku tetap sering ke rumah Ken untuk membereskahn rumahnya, walaupun aku sudah berpacaran dengan Ken tetap saja Ken masih berbuat jahil ke aku. Ternyata benar apa yang diktakan orang orang tentang umur 17 tahun yang terdapat banyak keajaiban yang dapat terjadi di umur ini.*